Sekolah, Buah Simalakama (Bagian Pertama)

July 11th, 2008 by bukubagusdotcom

"Oleh : Safak Muhammad"

Menjelang liburan sekolah dan memasuki tahun ajaran baru ini, orang tua murid disibukkan dengan persiapan sekloah putra-putrinya, untuk memilih sekolah ataupun universitas terbaik. Hal ini tentu saja wajar, karena sebagian besar orang beranggapan sekolah (baca menuntut ilmu) hanya dapat dilakukan di gedung sekolah -sekolah formal mulai dari TK, SD, SMP, SMA sampai perguruan tinggi (universitas).

Namun kenyataannya tidaklah demikian. Menuntut ilmu atau belajar tidak hanya disekolah formal, tetapi dimanapun kita dapat melakukan dan tidak terbatas pada usia. Belajar harus dilakukan dimanapun dan tugas kita adalah menjadi manusia yang selalu belajar selama hidup. Dengan demikian apa yang kita pelajari setidaknya memiliki tujuan, pertama memahami tugas manusia sebagai khalifah yang bertanggung jawab pada diri sendiri, lingkungan dan Tuhan. Kedua, proses belajar harus mampu menjadikan manusia dapat menemukan jati dirinya dan memimpin diri sendiri maupun hubungannya dengan sosial kemasyarakatan; Ketiga, belajar dengan ilmu - ilmu yang mampu mengeksplorasi kekayaan alam demi kemakmuran tanpa mengganggu keseimbangannya. Untuk proses ini, tidak bisa hanya mengandalkan sekolah atau perguruan tinggi atau hanya lewat kursus - kursus dan pelatihan di perusahaan - perusahaan, tetapi terlebih penting dalam konteks kehidupan nyata sehari - hari, di ‘sekolah besar’ kehidupan.

“Aku punya enam pelayan yang jujur. Mereka mengajar segala yang kuiingin tahu. Nama mereka adalah Di mana, Apa, Kapan, Mengapa, Bagaimana, dan Siapa”
Rudyard Kipling,
Sastrawan Inggris, 1865-1936

Kenyataannya, proses pendidikan masih banyak menghasilkan kerancuan - kerancuan atau ketersesatan dari tujuan pendidikan itu sendiri. Dalam buku Menjadi Manusia Pembelajar, Andreas Harefa mengatakan bahwa sebab utama ketersesatan pendidikan dari tingkat sekolah dasar hingga universitas dan kemudian berlanjut ke dunia kerja, berakar pada ketidakmampuan berpikir secara lateral, kreatif dan ‘liar’ dalam arti tidak terpolakan.Untuk waktu yang cukup lama, pendidikan (dan pelatihan di perusahaan) telah dininibobokan oleh ilusi - ilusi pola pikir linier dan arogansi ‘manajemen pendidikan unggul’ dalam memetakan masa depan (membuat blue print atau cetak biru yang ‘siap dipakai’, efisien, kaku, dan ‘serba pasti’) yang tidak memiliki landasan falsafah seperti visi pendidikan nasional.

Kurikulum pendidikan formal dan lingkungan pendukungnya seakan hanya untuk mencetak manusia seragam, menjadi pegawai. Tanda-tanda ini sudah terlihat sejak Play Group dan TK yang juga didukung orang tua karena berperan mengarahkan anaknya menjadi pegawai. Bayangkan saja, dari seratus dua puluh sembilan siswa di sebuah TK yang pernah saya ‘survei’, hanya satu setengah persen yang bercita - cita menjadi pengusaha dan paling banyak bercita-cita menjadi dokter atau sebesar tiga puluh persen disusul tentara, polisi dan pilot. Wajar bila kemudian di kota besar hingga kota kecil bermunculan les matematika, fisika, sempoa, mengetik, komputer dan sejenisnya untuk mendukung cita - cita itu dengan cara mengasah kecerdasan intelektual (IQ) saja. Demikian juga dengan lembaga pendidikan kursus (non formal) yang juga hanya mendidik siswa agar memiliki keahlian dibidang ketrampilan tertentu sehingga siap kerja, tanpa membekali siswa agar siap memulai usaha dengan ketrampilannya itu. Dengan demikian, orientasi dan tujuan kurikulum terlihat jelas hanya untuk mengembangkan IQ dan sangat minim dalam pengembangan kecerdasan emosi (EQ) apalagi kecerdasan emosi spiritual (ESQ).

Bukti lain terhadap ‘tuduhan’ itu dapat dilihat dari berbagai iklan perguruan tinggi (PT) di media massa, yang lebih ‘menjual’ keberhasilan alumni dalam mendapatkan pekerjaan atau peningkatan jabatan setelah kuliah. Pada pertengahan Agustus 2004 lalu, ketika Seleksi Penerimaan Mahasiswa baru (SPMB) diumumkan di media massa, sebuah perguruan tinggi memasang iklan pada sebuah koran harian di ibukota dengan bangga mengatakan, “82% lulusan kami mendapatkan pekerjaan kurang dari 6 bulan”. Sementara PT yang lain memasang nama dan foto beberapa alumni yang dianggap berhasil menduduki jabatan di BUMN, perusahaan swasta, maupun instansi pemerintah.

Akibat berbagai kerancuan tersebut maka muncul masalah ketika sekolah sudah banyak meluluskan sarjana, sementara jumlah lapangan kerja terbatas dan para sarjana baru itu terpaksa menjadi ‘pengangguran intelektual’. Berbagai problematika yang menyertai dunia pendidikan tersebut, tidak terlepas dari persepsi atau mitos keliru di masyarakat maupun dunia usaha, diantaranya :

Pertama, masyarakat beranggapan bahwa yang namanya orang terdidik itu adalah orang sekolahan, sehingga bagi yang tidak sekolah formal meskipun ia cerdas dan memiliki pengetahuan luas bukanlah orang terdidik, ‘orang sekolahan’ atau tidak intelek. Masyarakat juga masih menilai salah satu bukti sukses seseorang adalah karena gelar akademik yang dimilikinya dan harus mendapatkan pekerjaan ‘layak’ sesuai pendidikannya. Saya juga melihat masih banyak orang sukses merasa minder hanya karena tidak memiliki pendidikan formal dengan gelar akademik. Untuk itu sering kali mereka melakukan segala cara untuk mendapatkannya, tak terkecuali tanpa proses belajar memadai, orang dengan bangga menambahkan gelar BBA, MBA, PhD, Doctor dan gelar yang ia suka didepan atau belakang namanya. Simak saja beberapa pejabat tinggi yang menempelkan gelar sarjana dibelakang namanya hanya untuk menambah ‘PD’ (percaya diri), tidak peduli apakah gelar akademik itu diperoleh dengan sekolah beneran atau hanya membeli di ‘kampus’ hotel atau bahkan memalsukan ijazah seperti yang dilakukan beberapa calon legislatif yang terhormat pada pemilu 5 April 2004 lalu. Ada juga cerita lucu mengenai seseorang yang ‘gila’ dengan gelar akademiknya. Suatu hari, sebut saja namanya si Fulan yang sudah memiliki banyak gelar akademik berderet seperti ini : Prof. DR. KH Si Fulan, SH, MA. Dalam suatu acara pernikahan, sang MC ketika mempersilahkan sang profesor tampil ke podium tidak menyebutkan dengan lengkap gelarnya itu, maka si Fulan tersinggung karena merasa susah payah sekolah untuk mencapai gelar itu.

Kedua, menuntut ilmu itu harus di di sekolah favorit. Akibatnya banyak orang berusaha ‘mati-matian’ untuk mendapatkan sekolah ataupun perguruan tinggi favorit, meski IQ mereka sebenarnya tidak mampu. Tidak peduli dengan menghalalkan segala cara, termasuk membayar uang pelicin, menggunakan joki dalam ujian masuk, dan sebagainya. Dengan cara tersebut mereka telah membohongi diri sendiri dan telah merusak tujuan pendidikan itu sendiri. Realitas ini semakin menunjukkan bahwa berbagai problematika di masyarakat ini sebenarnya juga telah dimulai dari ketersesatan di dunia pendidikan kita.

Ketiga, niat sekolah hanya untuk mencari pekerjaan atau untuk meningkatkan jabatan (promosi) bagi yang sudah bekerja. Tujuan luhur pendidikan menjadi hilang, sehingga pendidikan menjadi barang modal (investasi) untuk meraih masa depan dengan cara mendapatkan pekerjaan ‘aman’. Kondisi demikian tidak terlepas dari mental pegawai dan karena permintaan dunia usaha yang mensyaratkan gelar akademik tertentu untuk posisi pekerjaan yang dibutuhkan dari pada mengutamakan pengalaman, pengetahuan maupun kemampuan individual. Simak saja lowongan kerja baik dimedia cetak ataupun elektronik, pendidikan selalu menjadi prasyarat utama. Begitu juga bagi orang yang sudah bekerja, meskipun memiliki kompentensi tinggi dan mampu bekerja dengan baik, bisa terganjal promosinya hanya karena tidak memiliki gelar akademik. Inilah salah satu faktor yang menyebabkan mengapa banyak kuliah extension menjadi pilihan pegawai karena ada ‘oknum’ penyelenggara sekolah maupun universitas yang memberikan dispensasi absensi kepada siswa / mahasiswa, asalkan membayar biaya sekolah dan mengikuti ujian saja untuk mendapatkan ijazah. Ijazah dianggap sangat penting bagai ‘barang sakti’ untuk kerja, sampai-sampai ada yang tak peduli apakah ia lulus dengan membuat skripsi sendiri, dibuatkan atau menjadi plagiator;

Keempat, adanya persepsi drop out identik dengan gagal dalam pendidikan. Akibatnya masyarakat menganggap orang yang putus sekolah (tidak kuliah) sebagai masyarakat ‘bawah’ yang tidak layak mendapatkan sukses dan memiliki ‘madesu’ (masa depan suram). Kenyataannya tidaklah demikian karena banyak tokoh atau pengusaha sukses yang tidak memiliki pendidikan tinggi, bahkan SMA saja tidak tamat;

Tujuan pendidikan yang tergambar dalam kurikulum seharusnya tidak hanya menjadikan siswa berpaling pada dunia semata, tetapi harus seimbang, menjadikan manusia yang mampu mandiri secara materi dan memiliki spiritualitas yang tinggi. Output pendidikan tidak boleh hanya diukur dengan jumlah lulusannya yang menjadi pegawai atau memiliki kekayaan, tetapi harus mencakup lebih banyak hal. Output pendidikan harus mengarahkan siswa - siswinya untuk semakin mampu memanusiawikan dirinya, masyarakat dan bangsanya dan bukan malah menjerembabkan ke jurang materialistik dan formalistik belaka.

“Bagi saya pendidikan bertujuan mengajar seseorang bagaimana cara menghasilkan yang terbaik dari dalam dirinya dan mengembangkan dirinya ke tahap yang terbaik sesuai bakatnya”. Tetapi ‘tujuan’ hari ini tampak seperti untuk mendapatkan pekerjaan, mencari pekerjaan- PEKERJAAN! PEKERJAAN!, PEKERJAAN!” Apa jenis pekerjaannya tidak masalah. Apakah seseorang menyukai pekerjaan atau tidak pun tidak penting, asal ia bekerja. Ini sering membawa kepada aspek yang satu lagi, yaitu apabila seseorang mendapatkan suatu pekerjaan, ia takut kehilangan. Begitulah keadaannya, sehingga saya mengenali banyak kawan dan orang lain yang begitu mencintai pekerjaan mereka - kecewa bagaikan pasak empat persegi di dalam lubang bulat”.

Billi PS Lim, penulis buku Dare to Fail

Akibat sistem pendidikan yang ‘tidak mendidik’ maka tidak sedikit, bahkan mayoritas lulusan perguruan tinggi selalu berusaha mencari pekerjaan yang dianggap ‘mapan’ dan memberikan jaminan ‘keamanan’ di masa depan. Jarang yang bercita-cita untuk memulai usaha baru atau meneruskan usaha keluarga. Bahkan banyak orang tua yang tidak memiliki ahli waris karena anaknya tidak mau mengikuti jejaknya sebagai pengusaha walaupun usahanya sudah maju. Masyarakat juga masih memiliki persepsi salah dan merasa ‘sia-sia’ apabila tidak dapat bekerja di diperusahaan dengan mengandalkan ijazah sekolah tingginya, karena sejak awal siswa dan orang tua hanya berniat untuk menjadi pegawai.

Selalu Ada Jalan Keluar

July 3rd, 2008 by bukubagusdotcom
Oleh : Imam Sutrisno
Di suatu pagi, mentari tampak meredupkan cahayanya, tak seperti biasanya yang selalu tersenyum lebar dan menebarkan aroma cahaya kecerahan pada setiap insan di muka bumi. Sementara di sebelah sanapun sang hujan mulai menggoda, mulai melambai-lambaikan godaan awan seolah mengejek sang mentari tuk mulai bersenda gurau, "pagi yang menyejukkan .." guraunya. Sang mentaripun tersenyum simpul mendengar ejekan sang hujan, dengan lirihpun berucap, "wangi aroma cahayaku tak sirna oleh lambaian godaan awanmu….". Sang hujanpun balas mengejek, "bagaimana mungkin engkau tak kan terhalang, sedang aroma cahayamu tak sampai di muka bumi ?". Sang mentari dengan tegas menjawab, "wangi aroma cahayaku akan selalu terpancar oleh hati-hati hamba yang beriman, walau mendung awan menyelemuti bumi mereka". Mendengar jawaban demikian sang hujanpun berujar, "sungguh engkau telah benar !". Itulah sepenggal kalimat yang barangkali menjadi sebuah bahan inspirasi, bahwa pada dasarnya sinar cahaya akan selalu benderang menghiasi ruangan - ruangan hati hamba yang beriman. Sang cahaya tak hilang walau diterjang berbagai awan yang melintang, karena sesungguhnya awan itu hanyalah sebuah "sarana penegasan" untuk bisa melihat sang cahaya kembali. Begitulah, kita hidup di dunia ini, terkadang karena berbagai problema hidup seolah menenggelamkan sumber cahaya abadi yang ada dalam hati ini, padahal justru karena problema hidup itu, "nilai" kita semakin teruji. Bagaimana mungkin kita bisa dibedakan dengan makhluk Allah yang lain, bila kita tidak pernah diuji. Justru karena ujian, kita "dipaksa" untuk selalu mengasah akal dan fikiran kita. Justru karena ujian, kita selalu dan selalu melihat tanda -tanda kekuasaan Allah. Karena sesungguhnya bagi seorang mu’min "segalanya merupakan kebaikan". Dalam sebuah haditspun Rasulullah pernah bersabda, " Sungguh unik perkara orang mukmin itu ! Semua perkaranya adalah baik. Jika mendapat kebaikan ia bersyukur, maka itu menjadi sebuah kebaikan baginya. Dan jika ditimpa musibah ia bersabar, maka itu juga menjadi sebuah kebaikan baginya. Dan ini hanya akan terjadi pada orang mukmin." Terkadang, saat kita mengalami sebuah persoalan ekonomi misalnya, begitu berat gundah gulana melanda fikiran kita, perasaan kita bahkan hati kita terasa kacau balau. Namun sadarkah kita, bahwa seberat apapun masalah yang kita hadapi "pasti" sesuai ukuran yang Allah berikan kepada kita. Ini yang harus senantiasa menjadi sebuah "keyakinan mutlak" dalam diri kita. Sikap kita terhadap sebuah permasalahan, ternyata lebih penting dibanding masalah itu sendiri. Kita sadar di dunia ini tidak ada satupun manusia yang tidak mempunyai masalah, karena memang karena itulah manusia terlahir ke muka bumi, untuk merampungkan masalah. Melalui sebuah masalah, sungguh-sungguh nilai kita diuji oleh Allah. Akankah karena suatu masalah membawa kita semakin dekat kepada Allah ? atau malah mungkin semakin jauh dari bimbingan Allah ? Tatkala karena suatu masalah menimpa kita, lalu setahap demi setahap semakin bisa melihat "betapa besar kekuasaan Allah", maka insya Allah balasan dari Allah lebih besar dari masalah itu sendiri. Namun jika kita semakin membawa diri kepada sebuah kemalasan, kejenuhan, hilangnya motivasi diri…. jangan-jangan kita terbawa kepada sebuah "tipu daya" dari nafsu kita sendiri, yang pada akhirnya membawa kepada sebuah kesengsaraan hakiki. Sikap kita bisa "selamat", tatkala pada titik puncak "keyakinan hakiki" mengatakan bahwa, "tiada daya dan upaya kecuali karena Allah semata", bukan karena fikiran kita, bukan karena strategi kita, bukan karena kelihaian lobby kita, bukan karena skill kita…. dan bla.. bla …… Tatkala kita "merasa" bisa mengatasi permasalahan namun dalam hati kita, berkata " karena kemampuan fikiran saya" dan melupakan "pemberi" fikiran kita sendiri… maka sesungguhnya lambat laun tanpa sadar… kita terbawa pada arus "kesombongan diri".."Na’udzubillah !!!!. Maka, seandainya saja, kita sudah bisa melihat "rahasia" sebuah masalah, maka sungguh "penglihatan akan keagungan kekuasaan Allah semakin terbuka". Yang terbuka oleh mata hati ini….. karena hati ini telah bisa melihat, maka pancaran cahayanyapun akan menyinari sang fikiran untuk berfikir lebih jernih… lebih terarah…, juga kan menyinari setiap langkah dan lintasan fikiran kita…. hingga "jalan keluarpun" akan diturunkan oleh "Sang Pemberi Cahaya". Dalam do’a Ibnu Athaillah, disebutkan, “Inilah aku mendekat pada-Mu dengan perantara kefakiranku (kebutuhanku) kepada-Mu, Dan bagaimana aku akan dapat berperantara kepada-Mu, dengan sesuatu yang mustahil akan dapat sampai kepada-Mu (yakni tidak ada perantara kepada Allah dengan sesuatu selain Allah). Dan bagaimana aku akan menyampaikan kepada-Mu keadaanku, padahal tidak tersembunyi daripada-Mu. Dan bagaimana akan saya jelaskan pada-Mu halku, sedang kata-kata itu pula daripada-Mu dan kembali kepada-Mu. Atau bagaimana akan kecewa harapanku, padahal telah datang menghadap kepada-Mu. Atau bagaimana tidak akan menjadi baik keadaanku, sedang ia berasal daripada-Mu dan kembali pula kepada-Mu."

KERANG REBUS DAN KERANG MUTIARA

June 29th, 2008 by bukubagusdotcom

Ini cerita tentang kerang rebus dan kerang mutiara. Suatu kali ada seorang ibu kerang dan sepuluh anak-anaknya. Mereka sedang bermain-main di laut.
Tiba-tiba, seorang anak kerang berteriak. “Ibu, ibu, tolong, Bu.“
“Kenapa Nak?“ tanya ibunya.
“Aku kemasukan pasir, Bu. Sakit sekali”
“Tahanlah Nak. Keluarkan saja lendirmu. Lama-lama sakitnya pasti hilang.”
Sang anak kerang pun menuruti ibunya. Dari hari ke hari ia kesakitan. Ia terus kesakitan. Tapi ia tidak mengeluh. Ia terus mengeluarkan lendirnya menyelimuti pasir itu.
Ibu dan saudara-saudaranya yang lain ada yang menghibur sang anak kerang. Tapi kebanyakan malah meledeknya. Mereka mentertawakan dan nyukurin kesakitan sang kerang. Tapi sang kerang tetap bersabar.
Lama-lama, rasa sakitnya menghilang. Ternyata pasir yang masuk tubuhnya telah terselimuti oleh lendirnya. Ia tidak lagi merasa sakit. Ia pun bisa bermain-main lagi bersama ibu dan saudaranya.
Suatu hari datang nelayan. Ia berhasil memperoleh banyak kerang, termasuk sang kerang yang kemasukan pasir tadi. Kerang-kerang itu pun berpisah dengan ibunya. Betapa sedihnya kerang-kerang itu. Tapi tiba-tiba terdengar teriakan ibu kerang:
“Jangan bersedih anak-anakku. Inilah saatnya kalian berhenti bermain. Sekarang saatnya kalian memberi manfaat pada manusia. Itulah tujuan hidup kalian. Berilah manfaat yang sebesar-besarnya.“
Anak-anak kerang pun mengerti. Mereka mentaati ibunya. Mereka akan memberi manfaat yang terbaik bagi manusia.
Sang nelayan sampai di darat. Ia dan istrinya memeriksa kerang-kerang itu. Betapa senangnya ketika mereka mendapati ada satu kerang yang ada mutiaranya. Suami istri nelayan itu pun memanggil anak-anaknya. Budi dan Diah.
“Nah Budi, Diah, ayah menemukan kerang mutiara. Ayah akan menjualnya. Harganya sangat mahal. Uang hasilnya bisa kita gunakan untuk memperbaiki rumah, dan biaya sekolah kalian.“
Budi dan Diah sangat senang. Tadinya mereka sangat sedih. Mereka ingin melanjutkan sekolah, tapi tidak ada biaya. Tapi sekarang, masalah itu bisa diatasi. Mereka sangat bersyukur pada Tuhan dan berterima kasih pada sang kerang. Meski kerang itu telah mati. Budi dan Diah akan menguburkan sang anak kerang. Di atasnya ada tulisan :
“Kerang Mutiara. Pahlawan Budi dan Diah“
Bagaimana dengan saudara-saudara sang anak kerang? Mereka akhirnya direbus istri sang nelayan. Mereka dijual di pasar dengan harga Rp. 100,- per buah.
Begitulah kisah kerang mutiara dan kerang rebus ini.
Apa yang bisa kita pelajari? Ada beberapa. Pertama:
BERANI MENAHAN KESAKITAN
Sang anak kerang berhasil menjadi kerang mutiara. Ia berhasil memberikan manfaat yang besar bagi keluarga sang nelayan. Itu adalah hasil sikapnya ketika tubuhnya kemasukan pasir.
Sang anak kerang kesakitan. Tapi ia tetap bertahan. Ia terus berusaha. Ia tidak putus asa. Itulah pilihan sikap yang luar biasa. Banyak orang yang ketika ditimpa masalah, mereka lari dari masalah itu. Masalahnya tidak selesai. Bahkan masalah itu membesar. Itulah akibat lari dari masalah.
Banyak orang juga yang berhenti berusaha. Misalnya ingin jadi pebisnis sukses. Mereka sudah mulai berbisnis. Eh, di tengah jalan timbul masalah. Mereka berusaha menyelesaikannya. Tapi tidak selesai-selesai. Akhirnya mereka menyerah. Cita-cita ingin jadi pebisnis sukses pun terkubur dalam.
No Pain No Gain, kata orang bijak. Kita punya juga peribahasa bagus : “Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian”. “Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.”
Setiap kita pasti ingin mempunyai nilai diri yang tinggi. Apakah jadi pintar, kreatif, pengusaha sukses, artis terkenal, pejabat tinggi, jadi ulama besar, dan sebagainya. Keinginan itu bagus sekali. Anda harus mulai berusaha ke arah sana.
Yakinlah kalau di tengah jalan anda pasti berhadapan dengan masalah. Nah, ketika anda berhadapan dengan masalah itu, ingatlah cerita ini. Tanyakan pada diri anda : “Saya mau jadi kerang rebus atau kerang mutiara?”
Saya yakin anda ingin jadi kerang rebus. Karena itu, bangkitlah. Berusaha sampai sukses. Tahan kesakitan-kesakitan. Jadilah manusia disiplin. Meski disiplin itu menyakitkan, tapi hasilnya setimpal.
Makna kedua dari cerita itu adalah :
JADILAH MANUSIA TERBAIK. MANUSIA YANG MEMBERIKAN MANFAAT TERBAIK BAGI SESAMA.
Kerang mutiara telah berjuang keras. Ia melalui banyak rintangan. Ia bertahan. Karena itu, ia menjadi kerang yang bernilai tinggi. Ketika mutiaranya di jual, harganya tinggi sekali. Dengan nilai yang tinggi, ia bisa memberi manfaat yang tinggi pula.
Berbeda dengan kerang biasa. Nilai mereka jauh lebih rendah dari kerang mutiara. Karena nilainya rendah, manfaat mereka pun rendah.
Untuk itu, jadilah kerang mutiara. Kerang mutiara memberi manfaat jauh lebih banyak dari kerang rebus. Satu kerang mutiara bisa berharga ribuan kerang rebus.
Untuk bisa melakukan ini, kita harus punya pola pikir memberi. Jadi, kalau ketemu orang, pertanyaan dalam benak kita adalah: “Manfaat apa yang bisa saya berikan untuk orang ini?“
Pola pikir memberi adalah pola pikir hebat. Semua orang sukses melakukannya. Lihatlah orang yang punya perusahaan. Makin banyak orang yang diberi manfaat olehnya, makin sukses perusahaan itu.
Inilah salah satu rahasia orang sukses. Ini juga rahasia kenapa tidak banyak orang sukses. Tidak banyak orang yang berpola pikir memberi. Mereka berpikir sebaliknya. “Apa yang bisa saya dapat?”
Pola pikir:”Apa yang bisa saya dapat?” adalah pola pikir orang gagal. Ia akan bertindak sesuai pikirannya. Karena pikirannya gagal, tindakannya juga tindakan gagal.
Kenapa disebut pikiran gagal? Karena tidak menyenangkan berinteraksi dengan orang yang pola pikirnya begini. Akibatnya, tidak ada yang mau bergaul dengannya. Padahal sukses akan didapat melalui bergaul dengan orang lain.
Makna ketiga dari cerita ini adalah :
JANGAN PEDULIKAN HAL-HAL NEGATIF DARI ORANG LAIN.

Ketika sang kerang kesakitan, ia diledek oleh saudara-saudaranya. Meski pun sakit, sang kerang mutiara diam saja. Ia tidak membalas perlakuan buruk saudaranya. Ia hanya terus berusaha agar kesakitannya hilang.
Ini sikap yang luar biasa. Bayangkan bila sang kerang justru membalas. Ia marah. Ia balas mengejek saudara-saudaranya. Apa yang akan terjadi? Sang kerang mutiara mungkin akan kehabisan tenaga. Ia harus bertahan dari kesakitannya dan marah. Sang kerang mungkin saja mati.
Ini terjadi dengan banyak orang. Mensikapi situasi buruk dengan marah. Misalnya anda seorang suami. Anda pulang ke rumah dalam keadaan lapar. Tubuh anda lemas tak bertenaga. Ketika anda buka lemari makan, ternyata tidak ada makanan. Apa yang akan anda lakukan pada istri anda di rumah?
Kebanyakan orang akan marah. Entah darimana tenaga marahnya. Tapi, ia bisa memarahi istrinya yang belum masak. Sebenarnya ia sedang membuang-buang tenaga percuma. Setelah marah, ia pasti merasa lebih lapar lagi.
Karena itu, berhentilah bersikap negatif pada orang lain atau suatu situasi. Pada orang dan situasi yang negatif sekalipun. Sikap terbaik pada orang negatif adalah justru bersikap baik. Sikap terbaik pada situasi negatif adalah belajar dari situasi itu.
Berilah orang, yang pelit pada anda. Tersenyumlah pada orang yang cemberut pada anda. Sapa dan kunjungi lah orang yang memusuhi anda. Beri hadiah. Kata orang bijak, “Seseorang disebut kuat, bila ia bisa menahan amarahnya.“ Anda pasti mau jadi orang yang kuat, kan.
Ada satu pendapat bagus dari Aa Gym. Kata beliau, kita harus berterima kasih pada orang yang memusuhi kita. Kenapa begitu? Karena, orang yang memusuhi kita adalah orang yang paling sering mengingat kita. Hampir sama dengan orang yang mencintai kita. Karena itu berterima kasihlah.
Jangan dengarkan hal-hal negatif dari orang lain. Bila kita mendengarkan, maka kita akan jadi orang yang negatif pula. “Kita adalah apa yang kita dengar“.
Bila kita hanya mau mendengar hal-hal baik saja, maka kita hanya akan berpikir hal-hal baik. Bila kita berpikir hal-hal baik, kita hanya mengucapkan dan melakukan hal-hal baik. Begitu pula sebaliknya.
Hanya mendengar hal-hal baik, bukan berarti kita tidak mendengar hal-hal buruk. Tapi, bila kita mulai mendengar hal-hal buruk, kita menjauh. Atau kita berusaha memperbaikinya.
Misalnya, kita lagi ngobrol dengan teman-teman. Tiba-tiba, obrolan koq jadi ngomongin keburukan teman kita yang lain. Nah, saat itulah kita coba membelokkan kembali arah obrolan. Bila tidak mampu, kita yang menyingkir dari obrolan itu. Jangan malah tambah semangat.
Nah, dalam perjalanan anda menuju sukses, pasti ada orang yang justru menghambat anda. Kata-katanya negatif. Bukannya memberi semangat, malah melemahkan semangat. Bukannya memberi solusi, malah memberi masalah baru. Bukannya mendamaikan, malah ngomporin. Nah, saya sarankan jauhilah orang-orang seperti ini. bila anda terus berdekatan dengan orang begini, lama-lama anda akan juga jadi orang yang sama.
Hal keempat yang bisa kita pelajari :
BALASLAH PERBUATAN BAIK DENGAN PERBUATAN YANG LEBIH BAIK.
Budi dan Diah, dua orang anak sang nelayan. Kedua anak ini menguburkan sang kerang dengan tulisan yang sangat mengharukan:
KERANG MUTIARA, PAHLAWAN BUDI DAN DIAH.
Tulisan itu menunjukkan, keduanya adalah anak yang tahu balas budi.
Karena jasa kerang mutiara, mereka berdua bisa melanjutkan sekolah. Mungkin bila tak ada kerang mutiara, pendidikan mereka akan terbengkalai. Itulah sebabnya, mereka sangat berterima kasih pada sang kerang. Mereka anak-anak yang tahu balas budi. Mereka pun akan jadi ’Kerang Mutiara’.
Membalas perbuatan baik dengan perbuatan yang lebih baik adalah kunci sukses lain. Ia terbukti manjur. Bila anda menerima perbuatan baik dari orang lain, anda pun membalasnya dengan lebih baik. Kira-kira apa yang akan dilakukan orang itu? Saya yakin, ia akan memberi anda hal-hal baik lagi. Begitu seterusnya. Anda dan dia jadi orang baik. Bukan hanya itu, anda dan dia AKAN MENJADI ORANG BESAR.

Oleh : supardi lee

Teka Teki Imam Ghazali

May 29th, 2008 by bukubagusdotcom

Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau
bertanya :

Soalan pertama
Imam Ghazali : Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?
Murid 1 : Orang tua
Murid 2 : Guru
Murid 3 : Teman
Murid 4 : Kaum kerabat

Imam Ghazali : Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI ( Surah Ali-Imran:185) . Sebab itu janji Allah bahawa setiap yang bernyawa pasti akan mati.

Soalan kedua
Imam Ghazali : Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini ?
Murid 1 : Negeri Cina
Murid 2 : Bulan
Murid 3 : Matahari
Murid 4 : Bintang-bintang

Iman Ghazali : Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kenderaan kita, tetap kita tidak
akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari
ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Soalan ketiga
Iman Ghazali : Apa yang paling besar didunia ini ?
Murid 1 : Gunung
Murid 2 : Matahari
Murid 3 : Bumi

Imam Ghazali : Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali
adalah HAWA NAFSU (Surah Al A’raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.

Soalan keempat
Imam Ghazali : Apa yang paling berat didunia ?
Murid 1 : Baja
Murid 2 : Besi
Murid 3 : Gajah

Imam Ghazali : Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah(pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah.

Soalan kelima
Imam Ghazali : Apa yang paling ringan di dunia ini ?
Murid 1 : Kapas
Murid 2 : Angin
Murid 3 : Debu
Murid 4 : Daun-daun

Imam Ghazali : Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali didunia ini adalah MENINGGALKAN SOLAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan solat.

Soalan keenam
Imam Ghazali : Apa yang paling tajam sekali didunia ini ?
Murid- Murid dengan serentak menjawab : Pedang

Imam Ghazali : Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia
ini adalah LIDAH MANUSIA. Kerana melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati

Berapa lama Kita dikubur?

March 13th, 2008 by bukubagusdotcom

Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani berlari-lari gembira di atas jalanan menyeberangi kawasan lampu merah Karet. Baju merahnya yg Kebesaran melambai Lambai di tiup angin. Tangan kanannya memegang Es krim sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk dicicipi, sementara tangan kirinya mencengkram Ikatan sabuk celana ayahnya. Yani dan Ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet, berputar sejenak ke kanan & kemudian duduk Di atas seonggok nisan “Hj Rajawali binti Muhammad 19-10-1915 : 20- 01-1965 ” “Nak, ini kubur nenekmu mari Kita berdo’a untuk nenekmu” Yani melihat wajah ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya yg mengangkat ke atas dan ikut memejamkan mata seperti ayahnya. Ia mendengarkan ayahnya berdo’a untuk Neneknya… “Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya Yah.” Ayahnya mengangguk sembari tersenyum, sembari memandang pusara Ibu-nya. “Hmm, berarti nenek sudah meninggal 42 tahun ya Yah…” Kata Yani berlagak sambil matanya menerawang dan jarinya berhitung. “Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 42 tahun … ” Yani memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan di sana . Di samping kuburan neneknya ada kuburan tua berlumut “Muhammad Zaini: 19-02-1882 : 30-01-1910″ “Hmm.. Kalau yang itu sudah meninggal 106 tahun yang lalu ya Yah”, jarinya menunjuk nisan disamping kubur neneknya. Sekali lagi ayahnya mengangguk. Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya. “Memangnya kenapa ndhuk ?” kata sang ayah menatap teduh mata anaknya. “Hmmm, ayah khan semalam bilang, bahwa kalau kita mati, lalu di kubur dan kita banyak dosanya, kita akan disiksa dineraka” kata Yani sambil meminta persetujuan ayahnya. “Iya kan yah?” Ayahnya tersenyum, “Lalu?” “Iya .. Kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 42 tahun dong yah di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 42 tahun nenek senang dikubur …. Ya nggak yah?” mata Yani berbinar karena bisa menjelaskan kepada Ayahnya pendapatnya. Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut, tampaknya cemas ….. “Iya nak, kamu pintar,” kata ayahnya pendek. Pulang dari pemakaman, ayah Yani tampak gelisah Di atas sajadahnya, memikirkan apa yang dikatakan anaknya… 42 tahun hingga sekarang… kalau kiamat datang 100 tahun lagi…142 tahun disiksa .. atau bahagia dikubur …. Lalu Ia menunduk … Meneteskan air mata… Kalau Ia meninggal .. Lalu banyak dosanya …lalu kiamat masih 1000 tahun lagi berarti Ia akan disiksa 1000 tahun? Innalillaahi WA inna ilaihi rooji’un …. Air matanya semakin banyak menetes, sanggupkah ia selama itu disiksa? Iya kalau kiamat 1000 tahun ke depan, kalau 2000 tahun lagi? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu ia akan disiksa di kubur. Lalu setelah dikubur? Bukankah Akan lebih parah lagi? Tahankah? padahal melihat adegan preman dipukuli massa ditelevisi kemarin ia sudah tak tahan? Ya Allah… Ia semakin menunduk, tangannya terangkat, keatas bahunya naik turun tak teratur…. air matanya semakin membanjiri jenggotnya Allahumma as aluka khusnul khootimah.. berulang Kali di bacanya DOA itu hingga suaranya serak … Dan ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk Yani. Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan Bambu. Di betulkannya selimutnya. Yani terus tertidur…. tanpa tahu, betapa sang bapak sangat berterima kasih padanya karena telah menyadarkannya arti sebuah kehidupan… Dan apa yang akan datang di depannya… “Yaa Allah, letakkanlah dunia ditanganku, jangan Kau letakkan dihatiku…” Sebarkan e-mail ini ke saudara-saudara Kita, mudah-mudahan bermanfaat.. . “Sebarkanlah walau hanya 1 ayat”

When You Divorce Me, Carry Me Out in Your Arms

March 13th, 2008 by bukubagusdotcom

Pada hari pernikahanku, aku membopong istriku. Mobil pengantin berhenti didepan flat kami yg cuma berkamar satu. Sahabat-sahabatku menyuruhku untuk membopongnya begitu keluar dari mobil. Jadi kubopong ia memasuki rumah kami. Ia kelihatan malu-malu. Aku adalah seorang pengantin pria yg sangat bahagia. Ini adalah kejadian 10 tahun yg lalu. Hari-hari selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening : Kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha dan berusaha untuk menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih diantara kami pun semakin surut. Ia adalah pegawai sipil. Setiap pagi kami berangkat kerja bersama-sama dan sampai dirumah juga pada waktu yg bersamaan. Anak kami sedang belajar di luar negeri. Perkawinan kami kelihatan bahagia. Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan yg tidak kusangka-sangka, Dew hadir dalam kehidupanku. Waktu itu adalah hari yg cerah. Aku berdiri di balkon dengan Dew yg sedang merangkulku. Hatiku sekali lagi terbenam dalam aliran cintanya. Ini adalah apartemen yg kubelikan untuknya. Dew berkata, “kamu adalah jenis pria terbaik yg menarik para gadis.” Kata-katanya tiba-tiba mengingatkanku pada istriku. Ketika kami baru menikah, istriku pernah berkata, “Pria sepertimu, begitu sukses, akan menjadi sangat menarik bagi para gadis.” Berpikir tentang ini, Aku menjadi ragu-ragu. Aku tahu kalau aku telah menghianati istriku. Tapi aku tidak sanggup menghentikannya. Aku melepaskan tangan Dew dan berkata, “kamu harus pergi membeli beberapa perabot, O.K.?.Aku ada sedikit urusan dikantor”. Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah berjanji menemaninya. Pada saat tersebut, ide perceraian menjadi semakin jelas dipikiranku walaupun kelihatan tidak mungkin. Bagaimanapun, aku merasa sangat sulit untuk membicarakan hal ini pada istriku. Walau bagaimanapun ku jelaskan, ia pasti akan sangat terluka.Sejujurnya ia adalah seorang istri yg baik. Setiap malam ia sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk santai didepan TV. Makan malam segera tersedia. Lalu kami akan menonton TV sama-sama. Atau aku akan menghidupkan komputer, membayangkan tubuh Dew. Ini adalah hiburan bagiku. Suatu hari aku berbicara dalam guyon, “seandainya kita bercerai, apa yg akan kau lakukan? ” Ia menatap padaku selama beberapa detik tanpa bersuara. Kenyataannya ia percaya bahwa perceraian adalah sesuatu yg sangat jauh dari dirinya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan jika tahu bahwa aku serius. ketika istriku mengunjungi kantorku, Dew baru saja keluar dari ruanganku. Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata penuh simpati dan berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu selama berbicara dengannya. Dia kelihatan sedikit curiga. Dia berusaha tersenyum pada bawahan-bawahanku. Tapi aku membaca ada kelukaan di matanya. Sekali lagi, Dew berkata padaku,”He Ning, ceraikan ia, O.K.? Lalu kita akan hidup bersama.” Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak boleh ragu-ragu lagi. Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, aku memegang tangannya. “Ada sesuatu yg harus kukatakan”. Ia duduk diam dan makan tanpa bersuara. Sekali lagi aku melihat ada luka dimatanya. Tiba-tiba aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi ia tahu kalau aku terus berpikir. “Aku ingin bercerai”, ku ungkapkan topik ini dengan serius tapi tenang. Ia seperti tidak terpengaruh oleh kata-kataku,tapi ia bertanya secara lembut,”kenapa?” “Aku serius.”Aku menghindari pertanyaannya. Jawaban ini membuat ia sangat marah. Ia melemparkan sumpit dan berteriak kepadaku, “Kamu bukan laki-laki!”. Pada malam itu, kami sekali saling membisu. Ia sedang menangis. Aku tahu kalau ia ingin tahu apa yg telah terjadi dengan perkawinan kami. Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yg memuaskan sebab hatiku telah dibawa pergi oleh Dew. Dengan perasaan yg amat bersalah, aku menuliskan surai perceraian dimana istriku memperoleh rumah, mobil dan 30% saham dari perusahaanku. Ia memandangnya sekilas dan mengoyaknya jadi beberapa bagian. Aku merasakan sakit dalam hati. Wanita yg telah 10 tahun hidup bersamaku sekarang menjadi seorang yg asing dalam hidupku. Tapi aku tidak bisa menarik kembali apa yg telah kuucapkan. Akhirnya ia menangis dengan keras didepanku, dimana hal tersebut tidak pernah kulihat sebelumnya. Bagiku, tangisannya merupakan suatu pembebasan untukku. Ide perceraian telah menghantuiku dalam beberapa minggu ini dan sekarang sungguh-sungguh telah terjadi. Pada larut malam, aku kembali ke rumah setelah menemui klienku. Aku melihat ia sedang menulis sesuatu. Karena capek aku segera ketiduran. Ketika aku terbangun tengah malam, aku melihat ia masih menulis. Aku tertidur kembali. Ia menuliskan syarat-syarat dari perceraiannya : ia tidak menginginkan apapun dariku, tapi aku harus memberikan waktu sebulan sebelum menceraikannya, dan dalam waktu sebulan itu kami harus hidup bersama seperti biasanya. Alasannya sangat sederhana : Anak kami akan segera menyelesaikan pendidikannya dan liburannya adalah sebulan lagi dan ia tidak ingin anak kami melihat kehancuran rumah tangga kami. Ia menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya,” He Ning, apakah kamu masih ingat bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pada hari pernikahan kita? Pertanyaan ini tiba-tiba mengembalikan beberapa kenangan indah kepadaku. Aku mengangguk dan mengiyakan. “Kamu membopongku dilenganmu”, katanya, “jadi aku punya sebuah permintaan, yaitu kamu akan tetap membopongku pada waktu perceraian kita. Dari sekarang sampai akhir bulan ini, setiap pagi kamu harus membopongku keluar dari kamar tidur ke pintu.” Aku menerima dengan senyum. Aku tahu ia merindukan beberapa kenangan indah yg telah berlalu dan berharap perkawinannya diakhiri dengan suasana romantis. Aku memberitahukan Dew soal syarat-syarat perceraian dari istriku. Ia tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya. “Bagaimanapun trik yg ia lakukan, ia harus menghadapi hasil dari perceraian ini,” ia mencemooh Kata- katanya membuatku merasa tidak enak. Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan perceraian itu. kami saling menganggap orang asing. Jadi ketika aku membopongnya dihari pertama, kami kelihatan salah tingkah. Anak kami menepuk punggung kami,”wah, papa membopong mama, mesra sekali”. Kata-katanya membuatku merasa sakit. Dari kamar tidur ke ruang duduk, lalu ke pintu, aku berjalan 10 meter dengan dirinya dalam lenganku. Ia memejamkan mata dan berkata dengan lembut,”mari kita mulai hari ini, jangan memberitahukan pada anak kita.” Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang. Aku melepaskan ia di pintu. Ia pergi menunggu bus, dan aku pergi ke kantor. Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah. Ia merebah di dadaku, Kami begitu dekat sampai-sampai aku bisa mencium wangi di bajunya. Aku menyadari bahwa aku telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita ini. Aku melihat bahwa ia tidak muda lagi. Beberapa kerut tampak di wajahnya. Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, “kebun diluar sedang dibongkar. Hati-hati kalau kamu lewat sana.” Hari keempat,ketika aku membangunkannya, aku merasa kalau kami masih mesra seperti sepasang suami istri dan aku masih membopong kekasihku dilenganku. Bayangan Dew menjadi samar. Pada hari kelima dan keenam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal, seperti dimana ia telah menyimpan baju-bajuku yg telah ia setrika, aku harus hati-hati saat memasak, dll. Aku mengangguk. Perasaan kedekatan terasa semakin erat. Aku tidak memberitahu Dew tentang hal ini. Aku merasa begitu ringan membopongnya. Berharap setiap hari pergi ke kantor bisa membuatku semakin kuat. Aku berkata padanya, “kelihatannya tidaklah sulit membopongmu sekarang” Ia sedang mencoba pakaiannya, aku sedang menunggu untuk membopongnya keluar. Ia berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa menemukan yg cocok. Lalu ia melihat, “semua pakaianku kebesaran”. Aku tersenyum. Tapi tiba-tiba aku menyadarinya, sebab ia semakin kurus, itu sebabnya aku bisa membopongnya dengan ringan bukan disebabkan aku semakin kuat. Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam hati. Sekali lagi, aku merasakan perasaan sakit. Tanpa sadar ku sentuh kepalanya. Anak kami masuk pada saat tersebut. “Pa, sudah waktunya membopong mama keluar.” Baginya, melihat papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian yg penting. Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya dan merangkulnya dengan erat. Aku membalikkan wajah sebab aku takut aku akan berubah pikiran pada detik terakhir. Aku menyanggah ia dilenganku, berjalan dari kamar tidur, melewati ruang duduk ke teras. Tangannya memegangku secara lembut dan alami. aku menyanggah badannya dengan kuat seperti kami kembali ke hari pernikahan kami. Tapi ia kelihatan agak pucat dan kurus, membuatku sedih. Pada hari terakhir, ketika aku membopongnya dilenganku, aku melangkah dengan berat. Anak kami telah kembali ke sekolah. Ia berkata, “sesungguhnya aku berharap kamu akan membopongku sampai kita tua.” Aku memeluknya dengan kuat dan berkata “antara kita saling tidak menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra”. Aku melompat turun dari mobil tanpa sempat menguncinya. Aku takut keterlambatan akan membuat pikiranku berubah. Aku menaiki tangga. Dew membuka pintu. Aku berkata padanya,” Maaf Dew, aku tidak ingin bercerai. Aku serius”. Ia melihat kepadaku, kaget. Ia menyentuh dahiku. “Kamu tidak demam.” Kutepiskan tanganya dari dahiku. “Maaf Dew, aku cuma bisa bilang maaf padamu, aku tidak ingin bercerai. Kehidupan rumah tanggaku membosankan disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan nilai-nilai dari kehidupan, bukan disebabkan kami tidak saling mencintai lagi. Sekarang aku mengerti sejak aku membopongnya masuk ke rumahku, ia telah melahirkan anakku. Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu”. Dew tiba-tiba seperti tersadar. Ia memberikan tamparan keras kepadaku dan menutup pintu dengan kencang dan tangisannya meledak. Aku menuruni tangga dan pergi ke kantor. Dalam perjalanan aku melewati sebuah toko bunga. Ku pesan sebuah buket bunga kesayangan istriku. Penjualnya bertanya apa yg mesti ia tulis dalam kartu ucapan? Aku tersenyum dan menulis : “Aku akan membopongmu setiap pagi sampai kita tua.”

Jangan Pernah Berhenti

March 13th, 2008 by bukubagusdotcom

Sejumlah sejarahwan yakin, bahwa pidato Winston Churchill yang paling berpengaruh adalah ketika beliau berpidato di wisuda Universitas Oxford. Churchill mempersiapkan pidato ini selama berjam-jam. Dan ketika saat pidatonya tiba, Churchill hanya mengucapkan tiga kata : ‘never give up’ (jangan pernah berhenti).

Sejenak saya merasa ini biasa-biasa saja. Tetapi ketika ada orang yang bertanya ke saya, bagaimana saya bisa berpresentasi di depan publik dengan cara yang demikian menguasai, saya teringat lagi pidato Churchill ini.

Banyak orang berfikir kalau saya bisa berbicara di depan publik seperti sekarang sudah sejak awal. Tentu saja semua itu tidak benar. Awalnya, saya adalah seorang pemalu, mudah tersinggung, takut bergaul dan minder.

Dan ketika memulai profesi pembicara publik, sering sekali saya dihina, dilecehkan dan direndahkan orang. Dari lafal ‘T’ yang tidak pernah lempeng, kaki seperti cacing kepanasan, tidak bisa membuat orang tertawa, pembicaraan yang terlalu teoritis, istilah-istilah canggih yang tidak perlu, serta segudang kelemahan lainnya.

Tidak bisa tidur beberapa minggu, stress atau jatuh sakit, itu sudah biasa. Pernah bahkan oleh murid dianjurkan agar saya dipecat saja menjadi dosen di tempat saya mengajar.

Pengalaman serupa juga pernah dialami oleh banyak agen asuransi jempolan. Ditolak, dibanting pintu, dihina, dicurigai orang, sampai
dengan dilecehkan mungkin sudah kebal. Pejuang kemanusiaan seperti Nelson Mandela dan Kim Dae Jung juga demikian. Tabungan kesulitan yang mereka miliki demikian menggunung. Dari dipenjara,hampir dibunuh, disiksa, dikencingin, tetapi toh tidak berhenti berjuang.

Apa yang ada di balik semua pengalaman ini, rupanya di balik sikap ulet untuk tidak pernah berhenti ini, sering bersembunyi banyak
kesempurnaan hidup. Mirip dengan air yang menetesi batu yang sama berulang-ulang, hanya karena sikap tidak pernah berhentilah yang membuat batu berlobang.

Besi hanya menjadi pisau setelah ditempa palu besar berulang-ulang, dan dibakar api panas ratusan derajat celsius. Pohon beringin besar yang berumur ratusan tahun, berhasil melewati ribuan angin ribut, jutaan hujan, dan berbagai godaan yang meruntuhkan.

Di satu kesempatan di awal Juni 1999, sambil menemani istri dan anak-anak, saya sempat makan malam di salah satu restoran di depan hotel Hyatt Sanur Bali. Yang membuat kejadian ini demikian terkenang, karena di restoran ini saya dan istri bertemu dengan seorang penyanyi penghibur yang demikian menghibur.

Pria dengan wajah biasa-biasa ini, hanya memainkan musik dan bernyanyi seorang diri. Modalnya, hanya sebuah gitar dan sebuah organ. Akan tetapi, ramuan musik yang dihasilkan demikian mengagumkan. Saya dan istri telah masuk banyak restoran dan kafe. Namun, ramuan musik yang dihadirkan penyanyi dan pemusik solo ini demikian menyentuh. Hampir setiap lagu yang ia nyanyikan mengundang kagum saya, istri dan banyak turis lainnya. Rasanya susah sekali melupakan kenangan manis bersama
penyanyi ini. Sejumlah uang tip serta ucapan terimakasih saya yang dalam, tampaknya belum cukup untuk membayar keterhiburan saya dan istri.

Di satu kesempatan menginap di salah satu guest house Caltex Pacific Indonesia di Pekan Baru, sekali lagi saya bertemu seorang manusia mengagumkan. House boy (baca : pembantu) yang bertanggungjawab terhadap guest house yang saya tempati demikian menyentuh hati saya. Setiap gerakan kerjanya dilakukan sambil bersiul. Atau setidaknya sambil bergembira dan tersenyum kecil. Hampir semua hal yang ada di kepala, tanpa perlu diterjemahkan ke dalam perintah, ia laksanakan dengan sempurna. Purwanto, demikian nama pegawai kecil ini, melakoni profesinya dengan tanpa keluhan.

Bedanya penyanyi Sanur di atas serta Purwanto dengan manusia kebanyakan, semakin lama dan semakin rutinnya pekerjaan dilakukan, ia tidak diikuti oleh kebosanan yang kemudian disertai oleh keinginan untuk berhenti.

Ketika timbul rasa bosan dalam mengajar, ada godaan politicking kotor di kantor yang diikuti keinginan ego untuk berhenti, atau jenuh menulis, saya malu dengan penyanyi Sanur dan house boy di atas. Di tengah demikian menyesakkannya rutinitas, demikian monotonnya kehidupan, kedua orang di atas, seakan-akan faham betul dengan pidato Winston Churchill : “never give up.”

Anda boleh mengagumi tulisan ini, atau juga mengagumi saya, tetapi Anda sebenarnya lebih layak kagum pada penyanyi Sanur dan house boy di atas. Tanpa banyak teori, tanpa perlu menulis, tanpa perlu menggurui, mereka sedang melaksanakan profesinya dengan prinsip sederhana : “jangan pernah berhenti.”

Saya kerap merasa rendah dan hina di depan manusia seperti penyanyi dan pembantu di atas. Bayangkan, sebagai konsultan, pembicara publik dan direktur sebuah perusahaan swasta, tentu saja saya berada pada status sosial yang lebih tinggi dan berpenghasilan lebih besar dibandingkan mereka. Akan tetapi, mereka memiliki mental “never give up” yang lebih mengagumkan.

Kadang saya sempat berfikir, jangan-jangan tingkatan sosial dan penghasilan yang lebih tinggi, tidak membuat mental “never give up” semakin kuat.

Kalau ini benar, orang-orang bawah seperti pembantu, pedagang bakso, satpam, supir, penyanyi rendahan, dan tukang kebunlah guru-guru sejati kita.

Jangan-jangan pidato inspiratif Winston Churchill - sebagaimana dikutip di awal - justru diperoleh dari guru-guru terakhir.

Semangkuk bakmi panas

March 13th, 2008 by bukubagusdotcom

Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tdk membawa uang. Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tdk mempunyai uang. Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata “Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?” ” Ya, tetapi, aku tdk membawa uang” jawab Ana dengan malu-malu “Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu” jawab si pemilik kedai. “Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu”. Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang. “Ada apa nona?” Tanya si pemilik kedai. “tidak apa-apa” aku hanya terharu jawab Ana sambil mengeringkan air matanya. “Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi !, tetapi,? ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah” “Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri” katanya kepada pemilik kedai. Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang dan berkata “Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya” Ana, terhenyak mendengar hal tsb. “Mengapa aku tdk berpikir ttg hal tsb? Utk semangkuk bakmi dr org yg baru kukenal, aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya. Ana, segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yg hrs diucapkan kpd ibunya. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Ana kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tdk memakannya sekarang”. Pada saat itu Ana tdk dapat menahan tangisnya dan ia menangis dihadapan ibunya. Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kpd org lain disekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi kpd org yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup Kita. RENUNGAN: BAGAIMANAPUN KITA TIDAK BOLEH MELUPAKAN JASA ORANG TUA KITA. SERINGKALI KITA MENGANGGAP PENGORBANAN MEREKA MERUPAKAN SUATU PROSES ALAMI YANG BIASA SAJA; TETAPI KASIH DAN KEPEDULIAN ORANG TUA KITA ADALAH HADIAH PALING BERHARGA YANG DIBERIKAN KEPADA KITA SEJAK KITA LAHIR. PIKIRKANLAH HAL ITU?? APAKAH KITA MAU MENGHARGAI PENGORBANAN TANPA SYARAT DARI ORANG TUA KITA? HAI ANAK-ANAK, TAATILAH ORANG TUAMU DALAM SEGALA HAL, KARENA ITULAH YANG INDAH DIDALAM TUHAN.

Renungan

February 26th, 2008 by bukubagusdotcom

Betapa besarnya nilai uang kertas senilai Rp.100.000 apabila dibawa ke masjid untuk disumbangkan; tetapi
betapa kecilnya kalau dibawa ke Mall untuk dibelanjakan!

Betapa lamanya melayani Allah selama lima belas menit namun betapa singkatnya kalau kita melihat film.
betapa sulitnya untuk mencari kata-kata ketika berdoa (spontan) namun betapa mudahnya kalau mengobrol atau bergosip dengan pacar / teman tanpa harus berpikir panjang-panjang.

Betapa asyiknya apabila pertandingan bola diperpanjang waktunya ekstra namun kita mengeluh ketika khotbah di masjid lebih lama sedikit daripada biasa. Betapa sulitnya untuk membaca satu lembar Al-qur’an tapi betapa mudahnya membaca 100 halaman dari novel yang laris.

Betapa getolnya orang untuk duduk di depan dalam pertandingan atau konser namun lebih senang berada di saf paling belakang ketika berada di Masjid

Betapa Mudahnya membuat 40 tahun dosa demi memuaskan nafsu birahi semata, namun alangkah sulitnya ketika menahan nafsu selama 30 hari ketika berpuasa.

Betapa sulitnya untuk menyediakan waktu untuk sholat 5 waktu; namun betapa mudahnya menyesuaikan waktu dalam sekejap pada saatterakhir untuk event yangmenyenangkan.

Betapa sulitnya untuk mempelajari arti yang terkandung di dalam al qur’an; namun betapa mudahnya untuk mengulang-ulangi gosip yang sama kepada orang lain.

Betapa mudahnya kita mempercayai apa yang dikatakan oleh koran namun betapa kita meragukan apa yang dikatakan oleh Kitab Suci AlQuran.

Betapa setiap orang ingin masuk sorga seandainya tidak perlu untuk percaya atau berpikir,atau mengatakan apa-apa,atau berbuat apa-apa.

bukubagus.com

September 17th, 2007 by bukubagusdotcom

www.bukubagus.com, tempat nyaman berbelanja buku,komik,tjersil, majalah bekas, langka, unik & antik/tua/kuno. Setiap hari selalu ada koleksi baru buku-buku pilihan.

Diskon Gede-gedean Hingga 65 % Di
www.bukubagus.com, tempat nyaman berbelanja buku/komik/tjersil/ majalah bekas, langka, unik & antik (tua/kuno). 

Kunjungi selalu www.bukubagus.com, karena setiap hari selalu ada koleksi baru buku - buku pilihan. 
Koleksi Terbaru : Buku Sejarah "The Russians","The Intelligent Traveler’s Guide to historic Scotland","China and Super Power", "Dari Bagdad ke Stambul (3 jilid tamat)", "Harta Terpendam Dalam Danau Perak (3 jilid)", di www.bukubagus.com.

Bergabunglah dalam Komunitas Kolektor Buku Langka ‘bukubagus.com’ dan dapatkan berbagai kemudahan & manfaat lainnya.